Jakarta adalah kota yang lumpuh setiap pagi hari dan sore hari, ya itulah pendapat saya. Di balik megahnya istana negara, eksostisnya museum fatahilah dan pentingnya gedung Bank Indonesia, Jakarta juga menyimpan jutaan amarah dari merahnya lampu merah walaupun sudah pindah ke lampu hijau.





…………………………………………………………………………………………………………………………………… …………..



Oooo….jelas sangat marah para pengguna jalan tersebut, walaupun Traffic Light lampunya berubah ke hijau namun para pengguna jalan tersebut tetap merasakan kerasnya jeruji lampu merah. Tapi bukankah ini hal biasa? Rasanya juga sudah bosan jika terus-menerus membahas tentang lumpuhnya kota Jakarta setiap pagi hari dan sore hari. Jutaan solusi juga sudah dicanangkan oleh Om Foke yang katanya si jago menata kota dan hasilnya sama saja, Jakarta tetap kota yang lumpuh bagai kakek tua yang dihajar habis-habisan oleh sekelompok anak muda. Akhirnya nikmati saja musibah kemacetan yang melanda.



Kenyataannya memang ini opini yang bodoh jika dikatakan nikmatilah kemacetan. Maka akan timbul pertanyaan, apa yang bisa dinikmati dari kemacetan? Jawabannya ya kebodohan itu yang bisa dinikmati, namun sayang seribu sayang kenikmatan ini tidak bisa dinikmati oleh orang mapan. Kenikmatan ini sangat segemented, hanya untuk anak jalanan, pedagang kecil dan pengangguran.







Anak jalanan dapat menikmati dan memanfaatkan kemacetan ini dengan ngamen bersama teman-temannya dari bis yang satu ke bis yang lainnya. Ternyata lumayan, ada berkah di balik kemacetan bagi mereka, bernyanyi dua buah atau tiga buah lagu, dalam setiap bis nya bisa saja menghasilkan uang Rp. 5.000 yang nantinya bisa digunakan untuk makan dan keperluan lainnya.



Kenikmatan yang dirasakan pedagang kecil berbeda lagi dari anak jalanan. Mereka bisa menawarkan barang dagangannya dengan mudah tanpa harus berlari-lari mengejar bis atau menghentikan laju kendaraan yang memang berbahaya jika dilakukan. Jelas barang dagangan mereka akan lebih laku keras ketika macet dibanding lancar. Karena kemungkinan besar para pengguna jalan atau penumpang bis membutuhkan suplai lebih banyak kertas tissu untuk menghapus keringat, permen untuk menghilangkan jenuh dan rokok sebagai relaksasi.







Ada juga kenikmatan untuk tipe masyarakat kelas pengangguran. Memang secara finansial mereka tidak mendapatkan apa-apa dari kemacetan ini. Namun secara psikologis mereka sangat diuntungkan. Mereka bisa mendapat hiburan gratis dengan duduk di halte sambil menonton lucu nya orang-orang berdasi dengan mobilnya yang mewah dan ijazah S1 atau lebih tinggi sedang marah-marah akibat jebakannya sendiri sambil berteriak, “WOY TOLOL!!! JALAN DONG!!!.”.



Lalu para pengaguran itu saling bercengkrama, “Orang tolol kok teriak tolol. Kan mereka sendiri yang bikin macet. Lihat saja, satu mobil isinya satu orang.”.



Lalu yang lainnya menjawab, “Itu namanya kena jebakan sendiri bos, hehehe.”.



Dan yang lainnya ikut nyeletuk, “Ternyata ijazah S1 nya gak bisa ngebebasin mereka dari kemacetan boss, mendingan kita gak pernah sekolah tapi gak pernah kena macet,hehehehe.”.











sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7288194