Saat berada di di Hanoi untuk penelitian pada November 2010, saya mengunjungi Dr Andrew Hardy, kepala  École française d'Extreme-Orient (Sekolah Perancis untuk Studi Asia: EFEO) cabang Hanoi.

EFEO adalah organisasi arkeologi terkenal yang sama yang berperan dalam menggali dan melestarikan reruntuhan kuno Champa (Vietnam) dan Angkor (Kamboja).

Saat mengobrol sambil minum teh di kantornya, dikelilingi perpustakaan yang lengkap koleksi naskah ilmiahnya, saya merasa seperti berada di adegan pembukaan film Indiana Jones, di Marshall College dan sedang disiapkan untuk petualangan berikutnya.

Dr Hardy menjelaskan bahwa selama lima tahun terakhir, ia dan tim arkeolog telah menemukan sebuah benteng yang panjangnya 127,4 kilometer, dimulai di Provinsi Quang Ngai (Vietnam Tengah) dan berliku melewati pegunungan, hutan dan lahan pertanian, sampai ke selatan di provinsi Binh Dinh.

Dibangun pada 1819, Tembok Panjang Quang Ngai adalah monumen terpanjang di Asia Tenggara dan penemuan arkeologi yang paling penting di Vietnam dari abad lalu.

Saya sudah berencana menuju ke selatan untuk beberapa hari. Saya pun tidak bisa menolak kesempatan untuk mencoba menemukan sendiri dinding tersebut.

Sebuah desa tradisional Hrê dengan sawah terasering.


Roh dan swastika: Perjalanan ke wilayah Hrê


Saat kereta saya mendekati kota pelabuhan kuno Hoi An, saya mendapati banjir musim hujan terburuk yang pernah saya alami. Kereta meluncur melintasi 'lautan' coklat.

Teratai dan swastika menghiasi ujung-ujung makam yang terendam, muncul dari gelombang.

Seorang teman saya yang bernama Bich menjemput di stasiun di Quang Ngai City. Saat itu, tidak ada peta maupun tanda-tanda Tembok Panjang, dan sebagian besar reruntuhan tembok tidak dapat diakses melalui jalan darat, jadi dia akan membantu saya.

Kami berkendara melewati bukit-bukit berhutan dan desa-desa kecil, melewati rumah panjang pangung suku Hrê. Atap jerami menggantung di dinding berteralis dan alas tikar anyaman rumput.

Persembahan buat roh-roh berupa buah-buahan terlihat di pinggir jalan, diletakkan di atas pucuk-pucuk bambu dan dihiasi rerumputan.

Dr. Hardy telah mengatakan kepada saya bahwa etnis minoritas Hrê mungkin telah membangun Tembok Panjang bekerjasama dengan penduduk Vietnam, memisahkan kedua komunitas tersebut untuk tujuan keamanan bersama dan regulasi perdagangan.

To Ngoc Hoang Bich berdiri di samping reruntuhan benteng batu yang pernah melindungi Tembok Panjang. Seperti mahasiswa lokal lainnya, ia bisa mendapatkan keuntungan dari pekerjaan yang muncul dari wisata Tembok Panjang.


Pos penjagaan di 'Deo Chim Hut'


Hujan deras membuat perjalanan jadi sulit. Banjir menghancurkan jembatan yang harus kami lalui sehingga kami mengambil jalan memutar yang panjang di atas pegunungan Deo Chim Hut.

Saat saya menyetir, kami mendengar batu-batu berjatuhan dan pohon patah di lereng di atas kami. Tanah longsor terlihat di depan, sehingga kami harus berbelok-belok menghindarinya. Bich gugup dan menyarankan kami kembali dan menanyakan arah sebelum melanjutkan, yang ternyata malah kebetulan.

Seorang petani menunjukkan kepada kami bahwa tembok yang kami cari terletak tepat di belakang jalan yang kami lalui, tersembunyi oleh dedaunan. Beberapa pecahan tembikar kuno berserakan di tanah. Keramik adalah satu dari banyak jenis barang yang diperdagangkan di sepanjang dinding.

Saya berdiri di pojokan sebuah benteng hancur di dekat tembok. Tentara semut hitam hilir-mudik menggigiti pohon berduri di samping saya.

Mata saya mengikuti dinding batu setinggi dua meter sampai ke lembah. Saya bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi seorang prajurit menjaga pos ini, hampir dua abad yang lalu, di tepi hutan yang dihuni oleh gajah dan harimau pemakan manusia.






sumber :http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/191-menjelajahi-tembok-panjang-vietnam