“Every minute you spend in planning saves 10 minutes in execution; this gives you a 1,000 percent return on energy! – Setiap menit yang Anda habiskan untuk perencanaan menghemat 10 menit dalam pelaksanaan; dan energi Anda kembali 1.000 persen.”
–Brian Tracy.


Perencanaan adalah hal yang sangat penting dalam setiap kegiatan yang akan anda lakukan. Tidak peduli apa profesi anda entah pengusaha, wiraswastawan, olahragawan, atau pelajar, perencanaan yang baik menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan kegagalan anda. Anda membuat perencanaan tidak hanya saat anda mengerjakan proyek besar, tetapi hal-hal sederhana seperti liburan, pesta ulang tahun atau pertandingan olahraga, semua itu memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang untuk mencapai hasil yang maksimal. Seperti kata pepatah: by failing to prepare, you’re preparing to fail… By failing to plan, you’re planning to fail


Karakteristik rencana yang bagus

Rencana yang bagus itu bukanlah rencana yang kita susun dengan kalimat yang memukau dan fantastis "bagusnya". Bahkan terkadang rencana yang bagus itu tidak identik dengan apakah rencana itu ditulis atau tidak. Ada sebagian orang yang sudah melatih otak dan intuisinya untuk membuat perencaan tanpa pakai tulisan dan nyatanya berjalan dengan bagus. Tetapi tidak sedikit pula yang sudah merumuskannya sedemikian rupa namun nyatanya rencana itu tinggal rencana.
Planning is a process, not just a plan




Secara umum, ciri-ciri rencana yang bagus itu bisa dijabarkan antara lain:

Pertama,
rencana itu didasari oleh pengetahuan yang akurat tentang kemampuan kita dalam menjalankan rencana. Semua orang punya kemampuan, hanya memang kadar dan ukurannya berbeda-beda. Ibarat mesin, jika kekuatan mesin itu seratus tetapi kita bebani tugas yang mestinya dipikul oleh mesin berkapasitas seribu, ya kemungkinannya gagal. Karena itu, apa yang sering dikatakan orang bahwa pengetahuan-diri itu kunci, berlaku juga dalam perencanaan. Ini juga berlaku untuk perencaan pribadi ataupun 'company'.

"...sebagian besar penyebab gagalnya rencana itu terletak pada kemampuan seseorang dalam menjalankan rencana (eksekusi), bukan pada rencananya..."



Kedua,
rencana itu didasari oleh pengetahuan yang akurat tentang sesuatu yang kita rencanakan.Katakanlah kita berencana untuk menekuni profesi / pekerjaan baru di tahun 2007 ini. Sekedar untuk menulisnya di komputer atau di atas kertas, apapun yang kita rencanakan itu memang sah-sah saja. Tetapi jika rencana itu ternyata belum cocok dengan kenyataan yang kita hadapi, atau karena ketidaktahuan kita, ya mungkin saja rencana kita akan mendek alias tidak jalan. Karena itu, banyak nasehat yang menyarankan agar kita memiliki plan B atau C. Ada pepatah yang mengatakan: "pikir dulu masak-masak baru membuat rencana." Berpikir masak di sini tentu maksudnya bukan berpikir terlalu lama (kelamaan mikir), tetapi memikirkan tingkat kesesuaian rencana dengan keadaan eksternal yang kita hadapi.


Ketiga,
rencana itu didasari oleh pengalaman dalam menjalankan rencana-rencana sebelumnya. Kita mungkin sudah sering mendengar istilah power of story. Istilah ini digunakan untuk menyebut keadaan mental seseorang yang dihasilkan dari pengalaman atas kemenangannya / keberhasilannya di masa lalu. Kalau kita terbiasa berhasil dalam menjalankan rencana di masa lalu, biasanya punya peluang berhasil yang jauh lebih besar. "Keberhasilan membuka jalan yang lebih lebar untuk keberhasilan baru."

"In order to plan your future wisely, it is necessary that you understand and appreciate your past."
- Jo Coudert

Agar kita memiliki power story yang banyak, makanya disarankan membuat rencana yang kira-kira tingkat keberhasilannya itu di atas 80 %. Caranya bagaimana? Selain butuh pengetahuan yang akurat, seperti yang sudah kita bahas di muka, dibutuhkan juga komitmen yang kuat untuk menjalankan rencana yang sudah kita buat. Pasalnya, sekali kita membiarkan tidak bisa menepati rencana yang telah kita bikin, lama-kelamaan ini akan menjadi kebiasaan.


Kesalahan atau jebakan dalam membuat perencanaan


Seperti biasa, semua strategi ada jebakannya. Planning sebagai strategi dalam menjalani hidup pun ada jebakannya. Di antara jebakan itu adalah misalnya:




Terlalu kaku dan terlalu "mate-matis"
Jangan sampai kita malah menjadi orang yang kaku dalam menghadapi realitas gara-gara punya rencana. Esensi dari perencanaan adalah bantuan (an aid to performance) untuk menjalani hidup ini. Dengan memiliki rencana yang bagus diharapkan hidup kita lebih teratur dalam menggunakan waktu dan lebih "fulfille" dalam menggunakan potensi yang kita miliki sehingga kita bisa merealisasikan tujuan-tujuan penting menurut hidup kita masing-masing.

Menjalankan rencana di lapangan itu mirip seperti yang dikatakan Bruce Lee. "Saat anda sedang bertempur, jangan lagi menghafal buku panduan. Fokuskan pada bagaimana bertempur dan bersiasat." Artinya, memiliki rencana itu perlu, tetapi dalam menjalankannya harus seirama dengan realitas atau masalah yang kita hadapi. Jangan sampai kita terpukul oleh masalah gara-gara menghafal rencana.




Memberangus intuisi dan kreativitas
Kerapkali kita ditantang untuk memutuskan sesuatu yang cepat tetapi tidak / belum memiliki informasi yang lengkap. Bekal yang diberikan Tuhan untuk menghadapi ini adalah intuisi, feeling, kata hati, kecondongan naluri, dan semisalnya. Meminjam istilah Nick Tasler, kita perlu belajar thingking without thingking (berpikir tanpa harus mikir terlalu lama). Nah, jangan sampai gara-gara terlalu menghafal rencana sehingga kita lupa menajamkan intuisi. Milikilah rencana tetapi tajamkan juga intuisi dan kreativitas.




Menjadi orang egois gara-gara punya rencana
Punya rencana hidup yang mandiri, ini tentu OK. Tetapi bila hanya rencana kita yang selalu kita pikirkan lalu mengabaikan hal-hal yang terkait dengan kebaikan hubungan kita dengan orang lain, ini tentu tidak OK. Biasanya, hal-hal yang melanggar kode etik kehidupan itu malah membuat langkah kita terhambat atau tidak lancar.



Rencana tanpa sasaran yang jelas
Jangan lupa mencantumkan sasaran dari rencana yang anda buat. Ini selain dapat membuat kita fleksibel, pun juga berfungsi sebagai ukuran atau standar. Kenapa sasaran bisa membuat kita menjadi lebih fleksibel? Kalau sasaran kita jelas, biasanya kita tidak terlalu memati-matika-kan tehnik. Tehnik itu bisa berubah berdasarkan keadaan, tetapi hendaknya tujuan kita harus tetap.



Bongkar pasang rencana karena nafsu sesaat
Sebetulnya tidak ada masalah kita mengganti rencana (plan B atau plan C) sejauh itu kita lakukan dengan pertimbangan dan alasan yang jelas. Yang kerap menghambat langkah kita adalah ketika kita suka bongkar-pasang rencana hanya karena nafsu, tidak didasari pertimbangan, alasan dan tujuan yang jelas.

Bagaimana kalau kita sudah membuat rencana, sudah menjalankan rencana, sudah memiliki sasaran dari setiap rencana, namun tetap saja banyak yang gagal? Terkadang kita perlu berpikir bahwa sejauh hidup kita itu berubah ke arah yang lebih bagus, itu masih positif. Apa yang dipesankan orang bijak itu lebih sering masih berlaku: "Sejauh kau mengoptimalkan penggunaan waktu, potensi, resource yang kami miliki, maka kau akan mendapatkan keinginanmu. Jika keinginanmu belum kau dapatkan, kau pasti akan mendapatkan keinginan lain yang nilainya sama atau bahkan lebih bagus." "Sebagian besar kesuksesan muncul dari kegagalan. Saya menjadi seorang kartunis karena saya gagal meraih tujuan saya menjadi eksekutif", begitu kata Scott Adams, seorang kartunis Amerika.





sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11828657